[Deep Slumber] I See You Through The Moon


LDS, 2018

[97-line] TWICE Jihyo x the dancer

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.


Dalam pekatnya kegelapan, seuntai isak lirih mengguncang kuat jiwa Jihyo. Semasa hidup, perempuan itu selalu memastikan kebahagiaan mereka yang mengasihinya meski kadang, tubuhnya terlalu lemah untuk memperjuangkan senyum orang lain. Ia tahu kematiannya menggurat luka di beberapa hati, tetapi siapa sangka, seorang pria tangguh yang seingatnya tak pernah mencucurkan air mata kini remuk oleh kenangan-kenangan akan dirinya? Andai yang menggema malam ini adalah tangis keluarganya atau kawan-kawannya alih-alih milik sang kekasih, kelopak mata Jihyo pasti masih akan menutup untuk seterusnya.

Mengapa degup pengiring derai kesedihan ini begitu lemah?

Bulan berdiri di balik punggung Jihyo ketika ia terbangun; tidak cukup satu, tiga belas purnama mengantarnya menuju si pemanggil. Menapaki awang-awang, ujung tungkainya menyentuh tanah tepat di depan pemuda bersurai sewarna arang yang baru saja mengulurkan tangan ke angkasa, menutup sebuah tarian sarat duka. Lengkung rindu tak utuh dari si pria mendorong Jihyo mengisi celah jemari kurus itu dengan miliknya sendiri. Akutnya sensasi yang dirambatkan dari sana menggetarkan Sang Penari hingga ia bertanya parau.

“Ini sungguh dirimu?”

“Ini sungguh diriku,” Jihyo menjawab, “tetapi apa ini benar kau?”

Sekujur tubuh Sang Penari melunglai, sedikit cahaya yang menimpa wajahnya luntur sudah. Kendati demikian, tatapannya masih terkunci pada permukaan mengilap netra Jihyo. Kata-katanya menguap dibawa angin malam, tetapi beruntung, lawan bicaranya tidak butuh lebih banyak aksara buat memahami sesaknya dicekam kesepian sepanjang waktu.

“Apa kabarmu?”

Raga Sang Penari seakan menciut sampai-sampai Jihyo yang mungil mampu melingkupinya dalam satu dekapan. Bibir pucat lelaki itu lantas menggumamkan sepatah jawaban.

“Sangat letih.”

Dari kiri dan kanan, lengan Sang Penari membawa Jihyo makin dekat, makin erat, berdempetan dengan jantungnya yang malas berdetak. Napas keringnya berembus pada puncak kepala si gadis, lama-kelamaan terputus-putus. Rambut berombak Jihyo dibelai lembut dan ia benci bagaimana gerakan tersebut membangkitkan haru dalam dada yang harusnya kosong.

“Kau sangat nyata. Apa aku sudah gila, Hyo?”

“Tidak, kau cuma terlalu mencintaiku.”

Yang mana dapat berdampak buruk. Logika Jihyo menghendaki pelukan ini diakhiri, tetapi semua kuncup peraba di kulitnya mendamba keintiman intens dan ia sejenak menyerah. Sekian detik telah terlewati, bahu lungsur Sang Penari didorong menjauh, telapak yang mendorongnya lantas mendaki lambat pipi tirus berhias lajur-lajur basah. Alangkah malang, pangeran tampan tak tergoyahkan ini sekarang menjadi lelaki biasa, hancur digempur emosi yang ia pelajari belum lama. Jihyo membebankan kesalahan sepenuhnya pada dirinya, menyesali betapa dini kisah mereka ditamatkan, tetapi rasa berdosa tidak bakal menambal kehampaan yang tersisa.

“Melupakanku adalah obat paling mujarab.”

“Maka katakanlah bagaimana caranya karena segala yang kucoba gagal mengenyahkanmu dari benakku.”

Ah, betulan matikah Jihyo bila ia masih tersiksa pedih dari kalimat ini? Lagi pula, siapa sudi menghapus ingatan ketika setiap keping masa silam bernilai demikian tinggi?

“Tak bisakah kau pulang?”

“Aku memang pulang.”

“Maksudku, pulang padaku. Selamanya. Di sisiku.” Sang Penari tersenyum getir. “Kemunculanmu malam ini mengabulkan doa-doaku; kukira tidak berlebihan jika aku memintamu singgah agak lebih lama.”

“Jangan.” Gawat, panas dari dasar hati Jihyo mulai membumbung ke kerongkongan. “Tuhan mengutuk hamba-Nya yang tak tahu terima kasih. Kau laki-laki luar biasa, aku yakin kehilanganku bukan rintangan terbesar yang pernah menghadangmu.”

Gelengan Sang Penari disusul satu pengakuan yang meruntuhkan pertahanan Jihyo.

“Tapi, kehilanganmu telah membuatku kehilangan diriku.”

Bukannya melipur lara, perjumpaan ini justru menyiramkan air garam ke atas luka yang menganga.

Kumohon jangan katakan hal itu karena aku juga kehilangan diriku. Dengan apa aku harus mengembalikan dirimu yang dulu?

Tidak berani Jihyo menengadah untuk bertukar pandang dengan Sang Penari, jadi ia menenggelamkan wajah pada dada bidang belahan jiwanya sembari menangis sesenggukan. Kehangatan yang menyelimuti ini seolah berasal dari mimpi; apakah keterlaluan jika si jelita memilih berpaling dari ribaan maut dan menyulut ulang bara asmaranya yang padam? Yang Maha Pengasih bukan tiran; tidak pernah Ia bertindak semena-mena, berarti perpisahan yang Ia rencanakan mestinya tidak akan menimbulkan penderitaan …

… bahkan mungkin tidak mutlak bila hal tersebut semata menanamkan cedera.

“Bawa aku.”

Bisikan putus asa ini tidak luput dari indra Jihyo. Ke mana si pemuda ingin pergi tidak perlu ditanya lagi, tetapi mereka berdua sama-sama tak berdaya mengubah kenyataan. Rengkuhan mereka pun tak abadi bagi satu sama lain sebab tiga belas bulan tidak setiap hari bersedia muncul bersamaan demi mendampingi roh yang belum direlakan menuju mereka yang enggan melepaskan.

Namun, kali ini, salah satu bulan sedang bermurah hati mendengar pinta Sang Penari.

Bawa dia.

“Apa?”

Bawa kekasihmu sebelum kami terbenam. Aku akan membentang jalan untuk kalian.

“Jihyo? Apanya yang ‘apa’?”

Yang ditanya tercenung, diombang-ambing debar harap-ragu akibat perintah sang penerang malam. Apa barusan ia diberi kesempatan untuk merebut Sang Penari dari alam fana? Bagi perempuan baik yang takut akan murka penciptanya, tawaran tadi bagai buah terlarang hadiah Iblis untuk Adam dan Hawa, menggoda namun melampaui batas. Bukan sekarang jadwalnya ajal menjemput Sang Penari, tetapi Jihyo dapat menggariskan ketetapannya sendiri atas nama cinta. Melebur dinding hayat yang menghalangi. Mengusir hitam yang bersemayam dalam batin masing-masing. Membodohi Tuhan.

Rindu tidaklah buta. Ia membutakan.

“Tutup matamu.”

“Mengapa, Hyo?”

Tiga belas bulan satu persatu ditelan awan gelap. Raga Jihyo ikut menghilang bersama mereka.

“Kumohon lakukanlah. Untuk kita.”

***

Sesaat usai memejam, Sang Penari merasakan kecupan ringan pada kelopak matanya—dan seketika ambruk begitu mendung menyaput sinar dari angkasa.


title taken from lyrics of Seventeen Performance Team – Lilili Yabbay

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s