[Deep Slumber] This is My Ocean


LDS, 2018

[97-line] GOT7 Yugyeom x the glass-winged bird

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

Jihyo ll Junhoe ll Mina

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.


Dalam pekatnya kegelapan, Yugyeom menatap kagum puluhan pasang sayap yang telah ia potong dari penghuni Dirgantara. Satu pasang sayap lagi, koleksinya akan mencapai angka seratus. Yang menutup rangkaian menakjubkan itu haruslah sayap yang luar biasa juga—dan si penculik telah memilih kawan masa kecilnya, gadis lembut hati bersayap sejernih cermin, untuk menggenapkan koleksi tersebut.

Di langit-langit sarang Yugyeom, tergantung sangkar besi yang mengurung Sayap Cermin. Sesuai dugaan penculiknya, gadis itu tidak banyak melawan, hanya sedikit terkejut saat tiba-tiba dibekap, dan tidak mencoba meloloskan diri begitu ia siuman dalam kungkungan jeruji. Penurut dan kalem. Yugyeom ingat menemukan kenyamanan dalam dekapan si gadis waktu kecil dulu; di sana, cemoohan yang memojokkannya sebagai ‘burung tanpa sayap’ serta-merta teredam. Terlahir berbeda dari makhluk Dirgantara lainnya, pemuda tinggi besar itu tidak bisa terbang hingga dewasa, maka ia memutuskan untuk beranjak dari kampung halamannya, membangun tempat tinggal yang benar-benar terasa seperti rumah. Hanya Sayap Cermin yang berat hati melepas kepergiannya dan menantinya kembali.

Itu adalah terakhir kali Yugyeom merasakan haru. Hatinya mendingin dalam kesendirian dan pekerjaan berdarah yang ia lakukan menjadi kebiasaan yang tak lagi menegangkan.

Menurunkan sangkar dari langit-langit, Yugyeom kemudian membuka gembok dan menyuruh Sayap Cermin keluar. “Aku akan memotong sayapmu setelah ini,” senyumnya seraya mengacungkan pedang bermata tajam di bawah leher tawanannya. “Kau tidak takut? Sungguh aneh.”

“Mengapa aku harus takut padamu?” Celah mata Sayap Cermin memang sempit, tetapi tatapannya yang tak tergoyahkan oleh kegentaran tetaplah mengagumkan. “Kau tak akan semudah itu merebut sayap ini dariku.”

Segera setelah kalimatnya tuntas, Sayap Cermin mengepak dan terbang. Yugyeom—yang tak mengantisipasi tindakan ini—hampir saja kehilangan tangkapan andai dara bersurai karamel itu tidak hinggap lagi di puncak sangkar. Giliran ia yang tersenyum dan Yugyeom yang mengumpat lantaran tak bisa meraihnya pada jarak setinggi itu.

“Lain kali, pasangkanlah rantai pada semua makhluk Dirgantara yang kaukurung, termasuk yang kelihatan pasrah sepertiku. Untung aku tak hendak lari darimu.” Sayap Cermin menyilangkan kaki. “Aku tahu mengapa kau begini. Kalau sayapmu sudah berjumlah seratus pasang, kau akan memusnahkan Dirgantara, tetapi setelah itu apa? Pernahkah kau merencanakan sesuatu yang lebih matang?”

“Kau meremehkanku? Aku bisa berbuat apa saja setelah membunuh dan mengambil sayap mereka seperti yang sudah kulakukan selama ini. Lihatlah!” Yugyeom membentangkan kedua tangannya yang lebar. “Istana ini kubangun dari kerangka dan sayap orang-orang yang merendahkanku dulu. Aku hanya perlu mencuri seratus, seribu, atau seratus ribu sayap lagi untuk membangun kerajaanku sendiri di pulau ini! Akan tetapi, menculik pemilik sayap satu persatu seperti ini sangat menyusahkan, maka aku membutuhkan seratus pasang sayap agar bisa langsung mengobrak-abrik langit!”

“Lalu, setelah kerajaanmu terbentuk, apa yang akan kaulakukan?” Sayap Cermin tiba-tiba melesat dari atas sangkar; kedua telapaknya mendarat penuh goda pada dada Yugyeom. “Aku punya usulan yang kurasa bagus untukmu. Langkah pertama, kau harus membagi 49 pasang sayap yang sudah kaumiliki padaku.”

“Membagi sayap,” Yugyeom memicing marah, jemarinya kuat mencekik Sayap Cermin, “tidak akan pernah menjadi pilihanku, Perempuan.”

Kendati terbatuk-batuk karena kesulitan bernapas, Sayap Cermin masih belum berhenti membujuk kawan kecilnya itu.

“Aku adalah satu-satunya keluarga bagimu, Yugyeom. Kalau aku mati, kau akan sangat menyesal.”

“Dan, apa tepatnya yang akan kusesali itu?” Ganjilnya, Yugyeom tidak berniat untuk menghabisi gadis yang ia cekik lantaran sesal itu, ia rasa, mungkin muncul dengan kematian Sayap Cermin.

“Bersamaku, kau tidak hanya bisa mendirikan kerajaan, tetapi juga menciptakan makhluk baru, kaum baru, yang tidak akan dibatasi oleh peraturan-peraturan Dirgantara. Untuk itu, jadikan aku sama seperti dirimu—makhluk bersayap banyak—baru rencanaku selanjutnya dapat dilaksanakan.”

Sayap Cermin terdengar cukup meyakinkan, maka Yugyeom melepaskannya, membuatnya jatuh terduduk di lantai istana sembari memegangi leher. Ia mengatur napas beberapa kali sebelum mengulas senyum layaknya orang yang memiliki posisi tawar tinggi.

“Aku bahkan belum menyatukan lima puluh pasang sayap itu pada diriku.”

“Kalau begitu, bersegeralah.” Sayap Cermin memainkan rantai yang terikat pada kerangkeng, lalu memasang gelang berat di ujung rantai tersebut pada salah satu kakinya. “Sepertinya akan lama, bukan? Aku lebih dari bersedia menunggumu, asal jangan terlalu lama.”

Merasa dipermainkan, Yugyeom menggerakkan lima puluh pasang sayap pada dinding di belakang punggungnya. Sekarang, ia dikelilingi seratus sayap yang berpendar kemerahan di awang-awang. “Aku tidak suka diremehkan.”

“Begitu pula aku,” kikik Sayap Cermin ketika memutar-mutar iseng rantai yang menahannya. “Berpura-pura menjadi gadis baik itu melelahkan. Tidak ada cara bagiku keluar dari lingkungan yang menyesakkan itu hingga kau datang menculikku.” Sayap Cermin menggeleng-geleng. “Itu tak tampak seperti penculikan; lebih mirip penjemputan, malah. Aku tahu aku memiliki kekuatan besar pada sayap kacaku ini, tetapi mereka tidak mengakuinya. Bagi mereka, perempuan hanya untuk dipingit dan dipelihara. Untuk apa kekuatanku ini, menurutmu?”

Pribadi Sayap Cermin yang selama ini terlihat nyatanya tidak mewakili apa-apa yang ia pendam di dalam. Raut kecewa si gadis jujur sekali; apa itu kalau bukan kebencian terhadap seluruh Dirgantara? Yugyeom tahu, Sayap Cermin lebih cerdas dan kuat dari betina lain yang ada di Dirgantara dan para pria di sana tidak pernah memandang itu sebagai suatu mukjizat tersendiri, justru menyembunyikannya.

Mengulurkan tangan ke depan, Yugyeom meretakkan gelang logam di kaki Sayap Cermin dengan kekuatannya supaya perempuan itu dapat leluasa bergerak.

“Keluar dari sangkar dan berdirilah di ubin biru. Ya, di sana. Perhatikan baik-baik.”

Di bawah kaki Yugyeom dan Sayap Cermin, terbentuk lingkaran segel besar berukir simbol mantra yang dirahasiakan para tetua Dirgantara. Itu adalah segel istimewa yang dapat memindahkan kekuatan satu makhluk bersayap ke makhluk bersayap lain, tetapi ia rawan disalahgunakan—seperti yang Yugyeom lakukan saat ini. Jumlah sayap yang mengitari mereka di udara bertambah 49 pasang. Lima puluh yang sudah melayang lebih dulu tertarik ke sisi Yugyeom, sedangkan sisanya mendekati Sayap Cermin.

“Perhatikan!” Yugyeom tertawa bangga akan hasil kerjanya yang sempurna setelah bertahun-tahun. Ia dapat merasakan sayap-sayap itu satu demi satu menyambung ke balik punggungnya. “Inilah kekuatan baru kita!”

Sayap Cermin merintih, lama-lama terjatuh di atas lututnya, tak mampu menahan beban besar sayap yang masih penuh dengan kekuatan. Namun, melihat sahabatnya masih tegak berdiri dengan 33 pasang sayap telah terpasang ke tubuhnya, Sayap Cermin berusaha tetap diam.

Satu jeritan lolos dari Sayap Cermin, singkat saja, saat sayap keseratus terpasang ke tubuhnya. Sebagaimana halnya Yugyeom, si gadis dialiri kekuatan yang sangat besar dan karenanya menjadi puas. Perlahan, ia bangkit, mendekati penculiknya yang menatap nanar sembari bersilang lengan.

“Bagaimana? Ini tidak butuh waktu lama jika aku yang melakukannya.”

“Tentu.” Sayap Cermin melingkarkan lengan rampingnya pada leher Yugyeom. “Rencana berikutnya, mari kita awali dengan sebuah ciuman.”


title taken from lyrics of Kim Jaejoong – Mineguess who Glass Wings was!

One thought on “[Deep Slumber] This is My Ocean

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s