[Deep Slumber] You Can’t Catch Me Anymore


LDS, 2018

[97-line] Oh My Girl Binnie x a boy in brown pajama

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

Jihyo ll Junhoe ll Mina ll Yugyeom

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.


Dalam pekatnya kegelapan, Binnie terbangun. Hal terbangun ini, setelah ia pikirkan kembali, merupakan sesuatu yang mustahil. Bukankah kematian mestinya terasa seperti tidur panjang, termasuk bagi dirinya? Matanya yang kini telah terbiasa dalam kegelapan mulai mengenali tempatnya berada sebagai lorong rumah yang jelas sekali bukan rumahnya. Tempat tinggal Binnie tidak punya banyak kamar hingga pintu-pintunya membentuk sebuah lorong begini, tetapi ruang tersebut tersimpan dalam kenangannya dan membangkitkan sejumput duka. Gadis itu perlahan berdiri, langkahnya ragu menuju cahaya temaram di ujung lorong.

Terdengar bentakan dan sumpah serapah dari ruangan yang Binnie ingat sebagai ruang merokok Keluarga Lee itu. Masing-masingnya ditimpali dengan ‘maaf’ yang lirih; suara ini pun tidak asing bagi si rambut pendek. Binnie akhirnya memilih menghentikan langkah untuk menyimak dengan saksama pembicaraan dalam ruang merokok.

Mengapa ayahmu selalu marah hanya karena nilai-nilaimu di sekolah yang tidak memuaskannya? Lagi pula, kau kan pandai menyanyi dan berpidato; mengapa ia tidak pernah memujimu untuk itu?

Sibuk dengan pemikirannya sendiri, Binnie tidak sadar percakapan itu telah diakhiri. Sahabatnya—anak si tuan rumah—diminta meninggalkan ruangan dan si gadis terlambat beranjak. Pemuda yang mengenakan piyama cokelat kusut itu sontak kaget menemukan temannya—yang dimakamkan seminggu lalu—di lorong rumahnya. Mereka saling tatap selama beberapa saat sebelum tiba-tiba, si pemuda menjerit keras sampai jatuh terduduk.

“Se-se-se-sedang apa kau di sini, Binnie?!”

Bersamaan dengan teriakan cempreng pemuda yang berada di ambang kedewasaannya itu, lorong rumah tempat keduanya berdiri mendadak terang, bahkan tanpa kandil. Dari langit-langitnya, berjatuhan serpihan kertas warna-warni yang biasanya hanya ditemukan di festival. Bunga-bunga bermekaran di bingkai-bingkai jendela dan di kepala Binnie, membentuk mahkota merah jambu yang mempercantiknya. Musik ceria mengalun entah dari mana tanpa henti-henti. Lagi-lagi keduanya terkejut; kali ini merupakan kejutan yang menyenangkan.

“Aku … juga tidak terlalu mengerti,” Binnie memandang sekitarnya dengan takjub, tak lama kemudian menarik tangan Piyama Cokelat dengan girang, “tetapi tempat ini kelihatannya menyenangkan! Kau bukannya mau tidur, kan?”

Refleks Piyama Cokelat menarik tangannya seraya menatap takut Binnie. Ini menyakiti si gadis sedikit lantaran ia biasanya menjadi orang yang paling bisa memancing semangat si pemuda.

“Aku sedang tidur sekarang. Ini kan mimpiku.” Piyama Cokelat memicing. “Binnie, jangan-jangan kau bisa hidup dalam mimpiku setelah mati?”

Binnie mengedikkan bahu. “Baguslah kalau memang begitu kenyataannya. Sudahlah, mumpung masih terang benderang, kita main, yuk!”

Ajakan bermain tidak bakal ditolak Piyama Cokelat yang hobi bersenang-senang, maka Binnie tak heran pada betapa cepat raut kawannya berubah dari takut ke gembira. “Ayo!”

Binnie tertarik ke depan, jalannya jadi sedikit lebih cepat hingga akhirnya berlari karena mengikuti Piyama Cokelat yang menggandengnya. Kendati berada dalam mimpi, tawa mereka terasa lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Rangkaian keceriaan mereka dimulai dari taman depan di mana mereka bermain kriket di bawah kelimpahan cahaya, lalu bergantian meluncur dari puncak bukit dekat rumah Piyama Cokelat menggunakan papan kayu. Mereka dengan sengaja menubrukkan diri ke ladang daisy yang mahkota bunganya langsung berhamburan begitu mereka ‘mendarat’. Haus seusai bermain, Piyama Cokelat memanjat sebatang pohon apel dan melemparkan buah-buah hijau-merah itu ke lengkung rok Binnie sampai penuh.

“Wah, ini adalah mimpi paling menyenangkan!” aku Piyama Cokelat sebelum menggigit apelnya. “Kau tahu, sepeninggalmu, aku selalu ketiban sial. Aku kena marah Ayah terus, tidak bisa berkonsentrasi di kelas, kegiatan klubku pun kacau sampai aku dijauhi teman-teman. Yang menyebalkan, mimpiku tidak ada bedanya dengan kehidupan nyata, sama sekali tidak menghibur! Makanya, Binnie, kalau memang kamu bisa meninggali mimpiku, tetaplah di sini supaya aku senang ….”

Iba sekaligus gemas pada tatapan memohon Piyama Cokelat yang sepolos anak-anak, Binnie mencubit kedua pipi kawannya itu hingga ‘korbannya’ mengaduh. “Iya, iya, apa pun untuk teman baikku. Sebenarnya, aku tidak percaya orang sepertimu bisa bersedih. Kakimu pernah disabet ikat pinggang oleh ayahmu dan kau masih tetap main bola sambil terbahak-bahak setelahnya.”

“Tentu saja. Di antara teman mainku waktu itu, kan masih ada kau.”

Atas fakta baru ini, Binnie tertunduk.

Jangan katakan itu, Piyama Cokelat, aku kan jadi merasa bersalah lagi ….

Piyama Cokelat, yang tidak pernah letih bermain dan hobi melucu, hanya diam di depan peti mati pada hari Binnie disemayamkan. Ia tidak menangis ketika memasuki rumah duka, tetapi sekeluarnya dari sana, wajahnya merah, sembab, dan bibirnya melengkung ke bawah. Bayangannya tak terlalu jelas di kepala Binnie sebagaimana bayangan-bayangan lain yang terbentuk dalam benak roh yang baru meninggalkan jasad, tetapi tetap menyakitkan. Sempat gadis itu khawatir: bagaimana jika Piyama Cokelat selamanya kehilangan senyum gara-gara kematiannya?

Namun, kini Binnie—melalui kejadian aneh yang tak sepenuhnya ia pahami—memiliki kesempatan untuk memulihkan senyum Piyama Cokelat; bodoh sekali jika ia menyia-nyiakan itu.

“O, tapi aku punya satu syarat agar aku benar-benar tinggal dalam mimpimu.”

“Apa itu?”

Binnie menegakkan tungkai, menepuk-nepuk roknya yang dilekati rumput liar, memosisikan diri beberapa depa dari Piyama Cokelat, lantas berbalik dan tersenyum iseng.

“Tangkap aku!!!”

“Oi, tunggu!”

Binnie dan Piyama Cokelat kencang berlari mengikuti gravitasi di dasar bukit. Mereka berguling-guling lagi di ladang daisy, untuk kali kedua melepaskan bunga-bunga kuning dari tangkai. Hampir saja Binnie tertangkap andai gadis itu tidak melemparkan segenggam mahkota daisy ke wajah Piyama Cokelat, memberinya waktu untuk kabur lagi. Ia keluar dari padang harum menuju hutan berpepohonan rapat, berdebar-debar ketika ia mendengar suara Piyama Cokelat makin dekat.

“Binnie, aku da—“

Tahu-tahu saja, suasana hening. Binnie mengira Piyama Cokelat mungkin tersandung dan jatuh, tetapi begitu berbalik, ia tak menemukan siapa-siapa. Tawanya seketika lenyap. Ia berkeliling, mencari Piyama Cokelat di sela-sela pepohonan sembari meneriakkan nama si pemuda; nihil hasilnya. Mundur lebih jauh, ia pergi ke ladang daisy hanya untuk disambut kelopak-kelopak yang telah mengering. Langit yang semula biru bersih menggelap sewarna senja, tetapi dengan biasan hitam pada merahnya. Menaiki bukit dari mana mereka berguling tadi, Binnie mendapati pohon yang sebelumnya ditumbuhi apel ranum tidak lagi berdaun. Taman di mana mereka bermain kriket tampak terabaikan dan rumah pemuda itu kini tinggal tersisa puing.

Tepian berenda rok Binnie ia cengkeram dengan jengkel.

“Aku masih di sini. Mengapa kamu yang pergi?”


title taken from lyrics of Dreamcatcher – Chase Meguess who Brown Pajama was!

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s