[Deep Slumber] Before You Is a New Fantasy


LDS, 2018

[97-line] Pristin Yuha x her savior

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

Jihyo ll Junhoe ll Mina ll Yugyeom ll Binnie

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.


Dalam pekatnya kegelapan, Yuha dikoyak nyeri yang entah kapan berhenti. Terkadang, ia berpikir lebih baik mati saja ketimbang menanggung siksa begini, tetapi ia lantas sadar bahwa hal tersebut tidak akan menguntungkannya, malah menggembirakan orang-orang yang menentang keberadaan darah jelata dalam Keluarga Kang. Enak saja. Ibunya yang suci, meski bukan keturunan ningrat, mengajarkannya berjuang sejak lahir, maka ia tak akan menyerah sampai napas yang penghabisan.

Namun, tidak dapat dipungkiri, rasa sakit bekerja sangat baik dengan kesepian dalam mengguncang pertahanan seseorang.

Yuha tidak ingat persis pada lecutan keberapa kesadarannya tenggelam, tetapi ia ingat berharap di sela tangis sunyinya. Ia berharap binatang-binatang bertuksedo yang memenjara dan melukainya mati mengenaskan di tangan seorang penyelamat. Lebih bagus lagi jika si penolong ini berwujud lelaki tampan dengan tinggi lebih dari enam kaki, punya senyum memesona, humoris, dan setia kepadanya semata sepanjang hayat. Terlalu indah untuk mewujud, tetapi tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu suasana hati Tuhan sedang baik sehingga bersedia mengabulkan permohonan paling mustahil?

“Kang Yuha.”

Kedengarannya seperti suara pria; kok dekat benar? Belum sepenuhnya siuman, Yuha membiarkan bariton itu berlalu.

“Aku tahu kau sudah bangun.”

Tapi, harusnya ini kamar perempuan. Mengapa ada—

Tersentak, Yuha membuka mata segera hanya untuk memicing kembali akibat serangan matahari siang dari jendela kamar. Sosok tegap seorang lelaki menyambutnya. Bayang-bayang pria itu luas, menghalangi sebagian jalan sinar. Sudut rahang yang tajam membingkai senyum cerah impian semua gadis, menyembuhkan meski belum jelas siapa pemiliknya. Dengan tubuh sepanjang itu, tinggi si pria jelas melampaui enam kaki—sungguh sesuai doa Yuha sebelum pingsan. Degup ingin tahu sekaligus khawatir menggema dalam dada Yuha, tetapi ketika lebih banyak penerangan masuk kamar, wajah sang penolong tidak lagi buram.

Laki-laki asing.

Mestinya Yuha merasa terancam, tetapi hatinya justru menemukan ketenteraman pada sosok Sang Penolong, lebih dari yang bisa diperolehnya dari Kediaman Kang. Selain itu, kendati tak pernah terekam dalam ingatan, kehangatan yang dibawa pria ini terasa akrab, jadi putri tersembunyi Kang tersebut pasrah tanpa upaya melindungi diri sedikit pun.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Sakit,” keluh Yuha, tak tahan lagi pada perih lukanya. “Mereka mencambukku.”

“Begitu, ya. Masih sakit sekali? Padahal aku sudah membersihkan dan membubuhkan obat pada punggungmu, lho.”

Yah, memang sengatan nyerinya tidak separah sebelum—tunggu, apa?

“Aku minta maaf,” Sang Penolong iseng memainkan alis, “karena tadi darurat, jadi aku membuka bajumu tanpa permisi.”

Kontan muka Yuha merah padam. Seorang lelaki telah melihat tubuhnya! Ingin ia menyambar satu atau dua bantal dalam jangkauan dan melemparkannya pada pria tak tahu sopan-santun ini, atau setidaknya meneriakinya ‘mesum’ sambil minta tolong dengan heboh agar pria ini digebuki sekalian. Masalahnya, baik tangan maupun pita suara Yuha sama-sama tak berdaya. Lagi pula, untuk apa melarikan diri dari satu-satunya manusia yang berkenan menyelamatkannya?

“Tenanglah, tidak bakalan aku mencuri kesempatan dalam kesempitan, apalagi cuma buat menikmati tubuh penuh bekas luka begitu.” Si pria berucap santai sembari meletakkan pakaian bersih di atas selimut Yuha. “Supaya aman, nih, ganti baju sendiri. Kau bisa duduk? Butuh bantuan?”

Demi mencegah hal-hal tak diinginkan, Yuha mengiyakan setegasnya biarpun setiap persendian seakan mau lepas. Ia memaksa diri menumpu berat dengan siku, tetapi tak seberapa lama, lengannya gemetar dan kepalanya terempas kembali ke bantal. Sang Penolong menggeleng-geleng heran menyaksikan itu.

“Ada batas untuk semua upaya, Nona Kang,” Lembut tangan Yuha digenggam oleh tangan kiri si pria, sementara tangan kanannya menyangga belakang kepala Yuha, “jadi menyerahlah bila sudah mencapai batasmu dan biarkan aku bekerja.”

Secara hati-hati, Yuha didudukkan. Laki-laki tadi menunggu agar yakin si gadis tak akan jatuh lagi, kemudian berjalan ke pintu, hendak meninggalkan ruangan.

“Sebentar!”

Suara parau Yuha menggambarkan betapa putus asa dirinya. Walau enggan mengaku, kehadiran Sang Penolong bagai angin surga pemulih hidup dan tak peduli seberapa singkat, kepergian lelaki ini menggoyahkannya. Tatkala si penyelamat berbalik, sepasang maniknya bertemu dengan obsidian Yuha; kekokohan di balik sana sungguh kontras dengan kerapuhan si perempuan bergaun kotor.

“Bagaimana aku akan memanggilmu lagi jika aku membutuhkanmu?”

Sial, Yuha terdengar sangat lemah di situ, sungguh memalukan. Biasanya, bahkan di bawah kuasa ayah semena-menanya, ia masih sanggup memberontak. Mengerikan sekali efek uluran tangan pria ini terhadap jiwa liar Yuha; tidak, bukan cuma uluran tangannya, melainkan setiap bagian Sang Penolong merupakan serpihan mimpi romantisnya yang tidak disangka dapat begini melemahkan di dunia nyata.

“Kau tak perlu memanggil. Aku akan tahu kapan kau membutuhkanku—dan aku akan datang sebelum kau sempat berharap.”

Sang Penolong tidak berdusta. Ia mengetuk dan bertanya apakah Yuha sudah berganti pakaian tepat ketika sang dara memasukkan kancing terakhir ke lubang. Aroma sedap yang menyusupi hidung rupanya adalah sarapan yang terlambat disajikan, tertata rapi pada nampan, dimasak sendiri oleh laki-laki yang ‘tidak tampak pandai memasak’ itu. “Terima kasih atas pujianmu,” gerutu Sang Penolong, pura-pura jengkel meskipun ia langsung tersenyum lebar begitu sup jagungnya dibilang lezat oleh Yuha. Bagaimana makanan-makanan ini terasa semenyenangkan rumah, persis buatan ibu Yuha yang telah berpulang? Termasuk kamar ini yang tercium seperti lavender kesukaannya … apa dia benar-benar sudah siuman?

“Kau ingin memastikannya? Coba pegang aku.”

“Apa?” Pembaca pikiran, batin Yuha takut, tetapi rasa penasaran mendorongnya menyentuh pipi Sang Penolong. Tekstur kulit yang nyata di ujung jemarinya membuktikan bahwa ia sudah sadar penuh—juga menimbulkan getaran-getaran tipis yang merambat sampai ke jantungnya.

“Siapa kau sebenarnya? Bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu?”

Pertanyaan itu terlontar begitu saja akibat kebahagiaan serta rasa syukur melimpah yang menerjang Yuha dalam satu waktu. Bukankah sosok sesempurna Sang Penolong tidak seharusnya berada di luar benaknya? Apalagi jawaban yang ia dapat agak … ajaib, seolah membenarkan spekulasi Yuha tentang identitas si pria.

***

“Akulah yang harusnya berterima kasih sebab aku tercipta dari tiap potong khayalanmu.”


title taken from lyrics of JBJ – Fantasyguess who The Saviour was!

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s