[Deep Slumber] Close My Eyes with Your Touch


LDS, 2019

[97-line] BTS Jungkook  x his twin sister

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

Jihyo ll Junhoe ll Mina ll Yugyeom ll Binnie ll Yuha ll Jung Chaeyeon ll Kwon Hyunbin

warning: incest!

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.


Dalam pekatnya kegelapan, Jungkook menggantungkan asa pada satu-satunya lentera: kembarannya, seorang gadis berpipi gembil yang mata kanannya tertutup kain hitam. Sama-sama keturunan pertama Raja, mereka dikurung berdua di kastil terpencil sebagai konsekuensi kepercayaan kuno yang dianut Monarki tentang mata ungu pembawa malapetaka. Sesungguhnya, si pangeran muda tidak paham mengapa iris kirinya yang unik dapat mendatangkan bencana, tetapi Kakak—yang disekap bersamanya—berpesan untuk mensyukuri apa yang ada ketimbang memberontak dan membahayakan diri. Kerapnya interaksi sepanjang pengasingan menciptakan cermin di mana kembar satu menjadi bayangan kembar lainnya; mereka kadang tertawa atas ide yang diutarakan dengan kalimat persis sama atau menderaikan tangis untuk jiwa pasangan mereka yang terluka. Hidup mereka bergulir tak signifikan, tetapi damai, hingga Raja mangkat pada ulang tahun kedelapan belas mereka.

Usai kepergian Raja, merebak selentingan-selentingan kurang sedap di kalangan pelayan dan guru Jungkook. Raja baru, menurut kabar angin, hendak memusnahkan semua penyihir (termasuk terduga penyihir) demi ‘mengamankan takhta dari kutukan’. Apa-apaan itu? Monarki pasti kecewa andai mengetahui keyakinan ajaib penguasa mereka yang mengaitkan pemerintahan dengan khayalan anak-anak.

“Tapi, Yang Mulia, ini bisa jadi peringatan penting. Anda berdua bukan tidak mungkin masuk dalam daftar buruan Raja Muda.”

Kakak membelalak, menegur pelayan belianya yang ceplas-ceplos tanpa suara selagi Jungkook mengernyit bingung. Apa adiknya—si raja baru—juga percaya pada keburukan yang dibawa iris ametis? Sebelum menduduki singgasana, sang pangeran kedua tidak menganggap serius isu perihal warna mata kakak-kakaknya; hasutankah penyebabnya berubah pikiran?

“Adikku boleh terlihat jahat, tetapi dia tidak bakal menyakiti saudara-saudara sedarahnya. I-iya, kan, Jungkook?”

Mengiyakan dengan hampa, Jungkook rasa ada rahasia di balik kegagapan kakaknya …

… yang terbukti dalam kurun dua bulan.

Kastil terbakar. Para pelayan dan guru angkat senjata, meradang akibat desakan prajurit Raja Muda yang hendak memenggal kepala si kembar. Jumlah yang gugur melebihi yang bertahan dan—meski jiwanya koyak menyaksikan orang-orang terdekatnya terus bergelimpangan—Jungkook memaksa dirinya lari sebab ia tak memiliki cukup kekuatan untuk melawan. Ia menggenggam erat telapak dingin Kakak, bersegera menyusuri lorong tersembunyi, dan meninggalkan kastil dengan berat hati.

“Apa ini nyata?”

Bersandar pada jubah Jungkook yang dilembabkan hujan, tangis Kakak tersamar oleh bening tirta yang sambung-menyambung dari angkasa. Di sela memacu kudanya, sang pangeran membantu butir-butir air menghapus bercak pembantaian dari wajah itu. Merasakan lara yang serupa, Jungkook melarang diri mengungkapkannya demi menguatkan saudarinya.

“Jungkook, jangan pernah bertindak jahat seperti adikmu, mengerti?”

Mendengar nasihat yang hampa ini, Jungkook merapatkan pelukan, menenggelamkan saudarinya ke dada agar bunyi-bunyi yang mengancam tidak mencapai rungu perempuan itu.

“Aku mengerti, Kak.”

Derak sepatu kuda meningkatkan kewaspadaan Jungkook. Ia terus berbelok sampai adiknya sendiri muncul dan menghalangi jalannya. Pasukan Monarki mengepung si kembar yang basah dari ujung kepala hingga kaki, penutup mata mereka makin lekat dengan kelopak.

“Tunggu!” Jungkook tersengal. Telunjuk-telunjuk yang siap melesatkan panah ditahan oleh satu telapak yang terangkat mengomando, memberi kesempatan si pesakitan memberikan pembelaan. “Hentikan ini. Mengapa kalian menimpakan hukuman pada kami yang tak melakukan apa pun?”

“Merasa suci, huh? Sejak lahir, keberadaan kalian adalah dosa besar.” Raja Muda menunjuk sisi wajah Jungkook yang terbalut kain. “Iblis memercikkan kebejatannya pada matamu. Cepat atau lambat, kalian akan belajar menggunakannya untuk meruntuhkan Monarki, maka aku—Raja Muda—harus menghentikan kalian sebelum kebusukan kalian memorak-porandakan segalanya.”

“Kau cerdas, pasti mengerti bahwa di balik kain ini adalah mata biasa yang kebetulan berbeda warna dari kebanyakan orang. Kami tidak akan menjatuhkan kesialan seperti tuduhanmu, jadi kumohon, bebaskan kami. Tidakkah kau iba pada Kakak?”

“Aku bukan dirimu yang gampang dibodohi oleh anjing betina macam dia.”

Bukannya melukai Kakak, julukan kasar ini justru mengobarkan emosi Jungkook.

“JAGA BICARAMU!!!”

Kain tipis penutup mata Jungkook meleleh layaknya tinta, mengalir bersama hujan ke rahang, kontan mengejutkan Raja Muda.

“Serang!!!”

Percuma. Puluhan anak panah yang meluncur terpecah sebelum mencapai Jungkook dan Kakak. Serangan beruntun berikutnya sama saja. Raja Muda hendak maju, sayangnya ia tertahan oleh genangan hujan yang membentuk perisai; sebutir air dari perisai itu mengenai kulitnya yang seketika berlubang sebesar tetesan. Kian luasnya pelindung ciptaan Jungkook memukul mundur musuh, tetapi iris ametis itu tidak puas. Seiring makin terangnya cahaya keunguan mata iblis, prajurit Monarki menjerit kesakitan, dilahap air keras yang melarutkan setiap tubuh. Raja Muda hampir tertelan pula jika Kakak tidak membuka penutup matanya …

… dan membatalkan serangkaian kekuatan Jungkook yang teraktifkan.

“Kakak sudah bilang, kan, jangan berbuat jahat seperti adikmu?”

***

Dua orang yang kelak menjadi topik perbincangan hangat di Monarki lantaran mengelak dari sabit maut Raja Muda kini berdiang dalam sebuah gua.

“Sekarang, kita tidak punya siapa-siapa lagi.”

Si bungsu menyelipkan seikat rambut ke belakang telinga kakaknya. “Kau masih memilikiku.”

“Tentu, tentu,” kekeh Kakak, getir tak memuat canda, “tetapi jika sendirian, apa aku masih sanggup menjagamu?”

“Adik kecil yang kau tahu itu, mulai hari ini tidak akan sering datang.”

Kakak terkesiap tatkala Jungkook menarik pinggangnya mendekat, ametis bertemu hazel, gelap nan memaksa.

“Aku adalah tempat bergantungmu yang lebih tangguh, jadi biasakanlah dirimu untuk meletakkan separuh—atau seluruh—bebanmu pada bahuku.”

Di penghujung kalimat, Jungkook memanggil nama si gadis alih-alih sapaan ‘Kakak’ yang selama ini ia pakai. Kakak tersipu, tidak mengira namanya terdengar lebih indah bila adiknya yang mengucapkan, dan urung menyingkirkan telapak Jungkook dari pinggangnya karena tangan itu telah berada di tempat yang tepat.


title taken from lyrics of BTS – Blood, Sweat, and Tearsguess who Big Sister was!

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s