[Chaptered] Rose (Chapter 10)


untitled-1-copy-jpg

Songwriter: BlankDreamer | Title  : Rose |  Length : Multi Chaptered | Rate :  PG17 |  Genre : Romance, AU, Hurt, Drama | Cast :  Yoo Yunji aka Yoo Yuna (OC),  Sunggyu  Infinite as  Kim  Sunggyu (OOC),  Rome C Clown  as  Yoo Barom (OOC), Daehyun B.A.P  as  Jung  Daehyun (OOC),  And Others

***

Happy  Reading  and  don’t  forget to  leave  your  Review  My  Beloved  Readers! Dont be silent readers… and dont copy paste without permition

Author’s Note : Chapter ini panjang ya…. Semoga ga bosen aja bacanya

List Chapter 1 , 2 , 3 , 4 , 5, 6, 7, 8, 9

Cerita Sebelumnya :

 

“Baboya (dasar bodoh)!” umpat Yunji.

Pun mengulurkan tangannya dan Sunggyu yang semakin dekat kian mempercepat langkahnya melihat hal itu. Tangan lelaki itu turut terulur kemudian. Ia seakan mendapat kekuatan baru untuk berlari. Karena ia begitu ingin segera meraih tangan itu. Tangan Yunji. Menggenggam erat tangan Yoo Yunji.

Dan ketika kedua tangan itu mencapai satu sama lain, lantas menggenggam erat satu sama lain, kedua anak manusia itu berlari bersama secepat mereka bisa. Berusaha kabur dari kejaran gerombolan orang-orang yang menyeramkan itu. Tapi alih-alih merasa takut, mereka justru tertawa bersama saat berlari. Dengan cara pandang yang berbeda, mereka merasa hari itu dan semua yang sedang berlangsung terasa begitu menyenangkan.

Dan kali pertamanya bagi Yunji, ia tak merasa ketakutan saat berlari dari kejaran orang-orang yang menyeramkan. Dan kali pertama baginya juga, ia berlari sambil berpegangan tangan seperti ini dan merasa sebahagia ini. Benar-benar hal yang sangat menyegarkannya.

*

*

*

Sunggyu menarik Yunji ke sela sempit di antara dua tembok gedung yang berdiri kokoh dan tinggi. Satu tangannya menutup mulut Yunji—mengisyaratkan kepada gadis itu untuk tidak mengeluarkan suara agar para pria yang mengejar mereka tak menemukan keduanya yang tengah bersembunyi—sementara tangannya yang lain masih menggenggam erat sebelah tangan Yunji.

Bukannya terengah-engah usai berlari, Yunji justru merasa tak bisa bernafas ketika tatapan matanya terperangkap pada satu sisi wajah Sunggyu yang begitu dekat dengannya. Garis rahang lelaki itu yang tegas, keringat yang menjalar turun dari pelipisnya, dan jakun yang bergerak naik dan turun karena mengatur nafas yang memburu usai berlari benar-benar telah berhasil membius Yunji hingga kehilangan akal sehatnya. Satu tangannya yang terbebas perlahan menyentuh pelipis Sunggyu. Menghapus jejak keringat yang menjalar pada sisi wajah pria itu.

Sunggyu yang tersentak kaget karena gerakan Yunji itu pun membeku. Ia tak berani menoleh.  Kini, ia juga merasakan nafasnya menjadi lebih berat. Sesak tapi menimbulkan sensasi kupu-kupu yang beterbangan penuh sukacita dalam perutnya. Tangannya yang semula membekap Yunji pun mendadak terkulai lemas.

“Maaf.” Yunji yang tersadar buru-buru menarik tangannya. Akan tetapi dengan cepat, Sunggyu meraih tangan gadis itu kembali.

“Mengapa berhenti?”

“Apa?”

Sunggyu menempelkan kembali tangan Yunji ke pipinya. Kali ini, tatapan mereka bertemu. Terkunci sudah.

“Mengapa kau melakukannya?” tanya Sunggyu yang nyaris terdengar lebih seperti bisikan.

“Kau berkeringat.”

Sunggyu memangkas jarak antar wajah mereka kali ini. “Sungguh? Hanya karena itu?”

Yunji mengangguk perlahan. Sunggyu makin mendekatkan wajahnya hingga keduanya tak lagi bisa saling menatap mata masing-masing. Nafas Sunggyu yang memberat pun terasa hangat menerpa permukaan wajah Yunji. Begitu juga sebaliknya. Tatapan keduanya beralih pada bibir masing-masing. Ujung hidung mereka saling bersentuhan dan kening mereka bertemu. Lalu, mata mereka tertutup. Tangan Sunggyu kian menggengam erat jemari Yunji. Suasana hati keduanya terasa kian hangat. Mereka semakin merasa nyaman dengan satu sama lain. Hembusan nafas yang semula terasa berat, kini justru terasa ringan. Amat sangat ringan. Mereka hanya tetap seperti itu untuk beberapa lama. Tak ingin beranjak.

Yunji mendengus seraya tersenyum masih dengan mata yang tertutup. Entah. Ia hanya merasa bahagia. Kupu-kupu di dalam perutnya terus menggelitik. Bahkan sebenarnya, gadis itu ingin sekali tertawa. Tapi ia harus menahannya. Meski di satu sisi, ia tak bisa menahan kebahagiaan yang entah dari mana asalnya datang itu sehingga bisa menghangatkan hatinya yang terasa begitu dingin selama ini.

“Mengapa tertawa? Apa yang kau pikirkan?” tanya Sunggyu tanpa membuka mata.

“Kau?”

Giliran Sunggyu yang mendengus sembari tersenyum.

“Kau.”

“Bodoh!”

“Hei, senorita. Kau sudah memanggil bosmu bodoh.”

Yunji terkekeh singkat. “Aku tidak akan meminta maaf. Tapi aku telah memaafkanmu.”

“Dasar gadis angkuh!”

“Kita pulang?”

“Sebaiknya begitu. Karena jika tidak, kurasa kau tidak akan pernah memaafkanku. Aku akan kehilangan kendali.”

Yunji terkekeh dan mata mereka berdua terbuka. Sunggyu menoleh ke arah jalanan. Sudah tidak terdengar suara-suara yang mencurigakan. Pria-pria itu pasti sudah menyerah dan pergi. Ia menatap Yunji kembali dan keduanya tertawa bersamaan. Senang melihat tawa gadis itu membuat Sunggyu tanpa sadar mengulurkan tangannya menyentuh puncak kepala Yunji dan membelainya lembut.

 

*

*

*

“Kau bawa telur rebus yang kupesankan? Kau tahu? Aku paling tak suka naik kereta tanpa memakan telur rebus.”

Yunji hanya mengangguk. Ia terlalu terbiasa dengan sikap lelaki itu yang acap kali bawel seperti ibu-ibu. Jadi, ia segera mengeluarkan kotak plastik berisi 8 butir telur rebus dari dalam tas.

Sunggyu pun tersenyum lebar melihat telur-telur itu. Ia mengambil satu dan mengetukkan telur itu ke kepalanya sendiri. Pun meringis kesakitan. Tapi lantas tersenyum puas melihat kulit telur yang retak.

Yunji mendengus sekaligus tertawa singkat melihat tingkah konyol lelaki bermata sipit itu. Sementara, Sunggyu mengerucutkan bibirnya begitu menyadari ia tengah ditertawakan oleh Yunji.

Wae utseo (mengapa tertawa)?”

Yunji menggeleng. “Ania.”

“Tapi kau baru saja tertawa.”

“Memanganya mengapa kalau aku tertawa? Tidak boleh?”

“Kau sedang menertawakanku.”

Keundae wae (lalu mengapa)?”

“Karena aku tidak sedang melucu.”

Yunji tak menjawab kali ini. Ia justru mengambil sebutir telur dan menggetok kepala Sunggyu dengan telur tersebut hingga lelaki itu mengaduh.

“Hyaa!!!”

“Wah, kepalamu benar-benar keras!” seru gadis itu dengan wajah datar begitu melihat kulit telur yang retak. Bahkan ia menunjukkan kulit telur yang retak itu pada Sunggyu.

Appo (sakit)!”

“Anggap saja itu sebuah hukuman.”

Mwo?”

“Apa kau pikir memaafkan kejadian hari itu semudah saat kau meminta maaf?”

Sunggyu terdiam. Ia salah tingkah dan membenarkan ucapan Yunji dalam hati.

Arra. Kha! Pukul saja sepuasmu. Aku ikhlas. Kha! Pukul! Ayo, pukul!

Sunggyu menyodorkan kepalanya untuk Yunji pukuli. Ia serius. Mungkin dengan begitu, otaknya akan bekerja dengan normal kembali. Siapa yang tahu, bukan?

Namun Sunggyu merasa ada yang aneh. Yunji tak kunjung memukul kepalanya. Ia pun mendongakkan kepala dan mendapati Yunji yang tengah terkekeh geli tak bersuara.

Ya, Tuhan! Ingatkan aku untuk tidak menjadi gila di saat seperti ini. Aku masih waras. Aku masih waras. Aku harus waras. Gadis ini tak boleh membuatku lebih gila lagi.

Lalu lelaki itu menyahut beberapa lembar tisu, membukanya, dan menempelkan lembaran tisu itu ke wajah Yunji seraya berkata, “ Terimakasih sudah tersenyum untukku.” Pun bersandar pada punggung kursi kereta seraya mengenakan capucon coat-nya dan menutup mata. Tak lupa sebuah senyum tersungging di bibir lelaki bermata sipit itu. Ia sungguh tak bisa menahan rasa bahagianya saat ini dan nyaris menjadi gila (lagi).

*

*

*

Yunji hanya menatap pantulan dirinya di kaca kereta. Dari sana, ia juga bisa melihat Sunggyu yang tengah terlelap seraya bersandar di pundaknya. Selama ini, ia memang selalu menyebut Sunggyu gila. Tapi semakin bersama lelaki itu, ia merasa dirinyalah yang gila. Bagaimana tidak? Sunggyu sudah memperlakukannya dengan kasar beberapa kali hingga membuatnya marah, kesal, dan bahkan ketakutan hingga membuatnya ingin pergi dari sisi pria itu. Tapi tetap saja pada akhirnya, ia masih berada di sisi Sunggyu. Ia masih saja bisa memaafkan semua perbuatan lelaki itu. Bahkan dengan ajaibnya, ia merasa sangat nyaman berada dekat-dekat dengan pria itu. Lihat saja bagaimana ia bisa tertawa bahagia bersama Sunggyu semalam. Ia tak menyangka bisa mengalami hal seperti semalam. Padahal mereka sedang dalam situasi yang tidak baik-baik saja. Tapi semuanya secara mengejutkan berubah menjadi sesuatu hal yang hangat dan menyenangkan. Menenangkan. Ia dengan mudah telah berdamai dengan pria itu. Berbanding terbalik dengan hal yang terjadi di antara keduanya pada malam sebelumnya.

Ah! Apa karena Sunggyu sudah mewujudkan impiannya dengan membawanya ke Spanyol karena itu ia begitu mudah memaafkan lelaki itu?

Oh! Lihatlah! Sekarang, ia terdengar seperti gadis murahan yang sudah menjual dirinya demi bisa ke Spanyol. Dimana harga diri yang selalu ia banggakan selama ini? Oh! Yunji lupa. Bukankah ia sudah lama melupakan harga dirinya sejak mengenal lelaki itu? Mungkin inilah alasan sesungguhnya mengapa ia tetap bertahan di sisi Sunggyu atau mungkin lagi, sekarang ia sedang berharap menjadi Cinderella modern seperti yang ada di drama-drama? Oh, astaga! Sejak kapan ia percaya Cinderella modern itu nyata?

Ah! Mungkin saja ia menganggap lelaki itu bisa melindunginya.

Tidak. Bahkan Sunggyu pernah membuatnya dalam bahaya seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu.

Lalu, apakah semua ini karena Sunggyu menawarkan tempat perlindungan?

Tentu. Pasti karena itu. Yunji sudah terbiasa berpindah tempat dan mencari tempat berlindung baru saat ia merasa sudah tak aman. Sunggyu pasti hanya salah satu persinggahannya.

Tanpa Yunji sadari, tatapannya yang semenjak tadi tak beralih dari bias wajah Sunggyu di kaca mengundang jemarinya untuk perlahan berusaha menyentuh pantulan itu. Dan ia tersenyum tipis begitu berhasil menyentuhnya.

“Kau tak bisa tidur?”

 Yunji melirik Sunggyu dari ujung mata dan buru-buru menurunkan tangannya. Lelaki itu masih memejamkan mata dan tak mengalihkan kepalanya dari pundak Yunji.

“Apa ada yang kau pikirkan?”

Eopseo (tak ada).”

Sunggyu membuka mata. Tatapan lelaki itu kosong menatap punggung sandaran kursi di hadapannya. Ia masih merasa malas beranjak dari pundak Yunji. Ia terlampau nyaman bisa berada sedekat itu dengan gadis tersebut tanpa pertengkaran.

“Perjalanan kita masih jauh,” ujar Sunggyu lebih untuk dirinya sendiri.

“Sangat.”

“Apa kau tidak bosan?” Lelaki itu mengangkat kepalanya dari pundak Yunji sekarang.

Gadis itu hanya menggedikkan pundak. “Apa yang mau kau lakukan?” tanya Yunji seakan tahu apa yang Sunggyu maksud.

Game.”

Game?

Sunggyu mengangguk.

Game…apa?”

Lelaki itu tersenyum. Lalu, “Kai…bai boh (batu gunting kertas)!” Sunggyu langsung mengacungkan kepalan tangannya. Sementara Yunji yang terbawa suasana sudah menunjukkan kelima jarinya bersamaan dengan Sunggyu. “Woah! Reaksimu benar-benar cepat, Nona Yoo.”

“Kau meremehkanku?”

Sunggyu menggedikkan pundak sementara sebelah alisnya terangkat. “Kita ulangi lagi. Anggap yang baru saja adalah percobaan.”

Mwoya?”

“Kai…”

Chankaman (tunggu sebentar)!” cegah Yunji buru-buru.

Jigeum mwo (sekarang apa)?”

“Bukankah harus ada hukuman?”

Sunggyu mengangguk setuju. “Oh, tentu. Kuberi kau keleluasaan untuk memilih.” Ia membuka kedua tangannya mempersilahkan.

Yunji berpikir sesaat seraya bergumam tak jelas. “Menyentil kening.”

“Kau yakin?”

“Tentu. Aku sangat mahir dalam menyentil kening.”

“Oooo…. Kau terlalu percaya diri, Nona Yoo.”

Kai bai boo!” Yunji menyerang tanpa menunggu Sunggyu menyelesaikan ucapannya. Tapi rupanya, lelaki itu juga punya refleks yang cepat.

Yunji mengeluarkan gunting. Sementara Sunggyu mengeluarkan kertas. Tentu saja, Yunji sontak menyeringai bahagia.

“Siapkan keningmu, Tuan Kim! Dan kau akan lihat. Apakah aku hanya percaya diri atau tidak?”

“Tentu. Akan kulihat.” Sunggyu menarik anak rambut yang menutupi keningnya ke atas dan, “Silahkan!”

“Kau tahu? Aku bisa saja menjadikan ini kesempatan untuk balas dendam.”

“Aku tidak takut. Kerahkan saja semua tenagamu. Hae (lakukanlah)!”

Eo. Tentu saja.” Dan Yunji langsung menyentil kening Sunggyu hingga lelaki itu mengerang kesakitan sembari mengelus-elus keningnya.

“Hyaa!! Appo (sakit)!!! Micheoseo (kau gila, ya)?”

Yunji hanya menggedikkan pundak. “Aku sudah memperingatkanmu.”

Sunggyu mendesis kesal sekaligus kesakitan. “Arraseo (aku mengerti). Arraseo. Kau mau membalas dendam’kan? Geurae (baiklah)!

“Sssst!” Yunji meletakkan jari telunjuk di bibir seraya kedua bola mata gadis itu memberi kode pada Sunggyu untuk melihat sekitar. Karena saat ini, mereka tengah menjadi pusat perhatian.

“Ini semua gara-gara kau.” Sunggyu berbicara dengan sedikit berbisik seraya mencodongkan tubuh ke arah Yunji.

Naega wae (mengapa aku)?” Yunji setengah berbisik.

“Kau memukulku terlalu keras.”

“Aku tidak memukulmu. Aku hanya menyentil keningmu. Dan kau sendiri yang mengatakan agar aku mengerahkan semua tenagaku.”

“Tapi aku hanya bercanda.” Sunggyu membela dirinya.

“Oh, maaf. Aku tidak tahu.” Yunji menegakkan pundaknya.

Sunggyu mendesis kesal. Lagi-lagi, Yunji mengeluarkan wajah tanpa ekspresi itu. Lelaki itu pun menatap Yunji dengan kening berkerut. Mengapa ia bisa menyukai gadis menyebalkan ini?

“Kau pura-pura tidak tahu.”

“Tidak.”

“Ya.”

“Tidak.”

“Ya.”

Dan seperti yang sudah-sudah, perdebatan pun dimulai. Dari permainan batu gunting kertas beralih menjadi adu mulut. Tapi tidak seperti yang sebelum-sebelumnya, kali ini mereka beradu mulut diiringi senyuman. Lalu setelah perdebatan yang melelahkan dan tak berguna itu, mereka pun memutuskan untuk kembali melanjutkan permainan mereka. Tapi setelah 4 ronde, Sunggyu tetap saja kalah. Membuat Yunji mendapat banyak kesempatan untuk menghukum lelaki itu.

Setelah permainan panjang yang melelahkan itu, mereka pun terlelap. Yunji tertidur dengan bersandar pada pundak Sunggyu dan lelaki itu menyandarkan kepalanya di atas kepala Yunji. Tidur nyenyak yang masih akan membawa mereka pada mimpi indah berikutnya.

*

*

*

Yunji dan Sunggyu berjalan menyusuri jalan setapak yang seakan tak memiliki ujung di Marbella, sebuah kota indah yang terletak di Provinsi Malaga.  Di kanan dan kiri keduanya berjajar tembok-tembok bangunan khas Mediterania bercat putih dengan balkon-balkon yang memiliki tanaman-tanaman berwarna hijau meski musim dingin telah tiba serta lampu-lampu menggantung di udara yang berpendar keemasan berlatarkan langit gelap. Malaga sendiri memang terkenal dengan cuaca yang tidak terlalu ekstrim. Di akhir musim panas saja, suhu maksimal biasa mencapai 30°C sementara di musim dingin titik terendahnya adalah 10°C hingga 12°C.

Baik Yunji maupun Sunggyu menyusuri jalan setapak tersebut tanpa banyak bicara. Mereka sama-sama tenggelam dalam keindahan dan kenyamanan yang kota tua itu tawarkan. Café, bar, dan restaurant yang menyediakan tempat duduk di sepanjang trotoar serta pengunjung dan juga pelayan yang sigap melayani dengan senyum ramah memberikan kesan yang hangat untuk sebuah musim dingin di kota kecil. Sayup-sayup lantunan musik khas Andalusia—flamenco—terdengar dari beberapa bar yang mereka lewati. Yunji dan Sunggyu juga sempat berhenti untuk menikmati pertunjukan pengamen jalanan yang memamerkan permainan gitar dan cajon yang apik dipadukan dengan tarian flamenco yang memukau.

Hingga pada akhirnya, mereka tiba di depan sebuah katedral yang dikenal oleh penduduk sekitar sebagai The Church of Our Lady of The Incarnation. Sunggyu dan Yunji pun melangkah memasuki katedral yang didominasi oleh warna putih dan emas tersebut. Segera setelah melalui pintu katedral yang besar dan tinggi, di sisi kanan dan kiri ruangan itu mereka disambut oleh deretan kursi kayu yang akan digunakan oleh para jemaah untuk berdoa, sementara pada jalan yang berada di antara deretan kursi-kursi itu terbentang karpet berwarna merah tua dengan ujung karpet tersebut berhenti pada altar utama yang besar dan diselimuti warna keemasan yang mewah dan mengagumkan. Tak banyak orang yang berada dalam katedral tersebut. Hanya beberapa orang paruh baya yang masih dan usai memanjatkan doa serta seorang biarawati nampak berjalan keluar usai menyalakan lilin yang terletak pada meja di altar.

Yunji yang berjalan di depan Sunggyu masuk ke dalam deretan kursi terdepan. Lantas, pria itupun mengekorinya. Tapi mata Sunggyu tak bisa berhenti berdecak kagum melihat interior katedral tersebut. Ia baru akan mengajak Yunji berbicara ketika ia menoleh dan melihat gadis itu sudah memakai kerudung berwarna putih transparan seraya memejamkan mata dan kedua tangan yang mengepal memanjatkan doa. Sepertinya, gadis itu menemukan kerudung yang mungkin saja ditinggalkan tanpa sengaja oleh seseorang sebelumnya. Tapi yang jelas, sekali lagi Sunggyu dibuat terpukau oleh Yunji.

“Kau tidak mau berdoa?” tanya Yunji tanpa membuka mata seolah tau Sunggyu sedang mengamatinya.

“Apa Ia akan mendengarkan doaku?”

“Jika kau berdoa dengan sepenuh hati, kurasa ya.”

“Benarkah? Akan kucoba. Tapi bagaimana jika tidak?”

“Itu mungkin berarti Ia punya rencana yang lebih indah untukmu dibandingkan dengan doamu.

“Aku tak tau kau sereligius ini.”

Kali ini, Yunji membuka mata dan menatap Sunggyu kesal. “Ssst! Berdoalah saja. Tak ada yang salah dengan berdoa.”

Sunggyu mendengus seraya tersenyum. Pun mengikuti perintah Yunji. Keduanya menutup mata dan memanjatkan doa masing-masing. Sama-sama menaruh harapan besar bahwa doa mereka akan didengar dan dikabulkan.

Tak butuh waktu lama bagi Sunggyu untuk memanjatkan doa. Karena yang terlintas dalam pikirannya hanya ada satu hal. Karena itu, begitu ia membuka mata usai berdoa, ia mendapati Yunji yang masih memejamkan mata. Sepertinya, ada banyak yang gadis itu minta. Tapi bagi Sunggyu hanya ada satu doa:

Tuhan, tolong kabulkan doa gadis di sampingku ini. Yoo Yunji. Karena aku hanya ingin melihatnya bahagia. Aku akan sangat berterimakasih padaMu jika Engkau mengabulkannya. Aku berjanji akan lebih rajin berdoa padaMu. Tapi, aku akan sangat marah jika Engkau tak mengabulkannya. Kumohon. Kumohon. Kumohon. Amin.

“Sudah selesai?” tanya Sunggyu begitu Yunji membuka matanya usai berdoa.

Yunji mengangguk. “Yuk!”

 “Mau mampir? Kudengar red wine di Andalusia adalah yang terbaik.” Sunggyu memecah keheningan di antara mereka ketika keduanya melewati sebuah café yang padat pengunjung.

Yunji mengguman—berpikir—sejenak. “Bagaimana kalau kita mampir setelah berjalan satu belokan lagi? Aku masih ingin menikmati suasana ini.”

“Kau benar-benar menyukai kota ini?”

Yunji mengangguk. “Seperti sebuah negeri dongeng. Sama halnya dengan perjalanan ini.” Mata Yunji menerawang sejenak. Lalu menoleh, menatap Sunggyu sambil tersenyum, seraya berkata, “Terimakasih, Sunggyu-ssi.”

Sunggyu tertegun. OH! SHIT! Umpatnya dalam hati. Tanpa sadar, lelaki itu justru mempercepat langkahnya. Meninggalkan Yunji di belakang. Tapi ketika teringat ia tak boleh meninggalkan gadis itu, ia kembali dan menarik tangan Yunji untuk mengikuti langkahnya.

“Terlalu cepat untuk mengatakan terimakasih,” ujar Sunggyu kemudian. Yunji pun mendengus geli.

Mereka berdua akhirnya mampir ke salah satu bar kecil setelah melalui satu belokan seperti yang diinginkan Yunji. Bar itu terletak di gang kecil yang tak terlalu padat pengunjung. Tempatnya pun tidak terlalu luas. Hanya sebuah ruangan memanjang dengan satu sisi terdapat meja bar dengan kursi-kursinya yang berjajar dan hanya terisi 2 orang pengunjung yang tengah bercengkrama. Di atas bar itu sendiri dan di belakang meja bar terdapat rak yang berisi jajaran botol red wine dengan tutup dan labelnya yang memberi warna berbeda dari bar yang didominasi warna cokelat hangat itu. Sementara di sisi lainnya, terdapat 3 set kursi dan meja berbahan kayu dengan model sederhana yang menambah kesan classy untuk bar kecil tersebut dan pada dindingnya terdapat pajangan lukisan-lukisan yang sesuai dengan tema ruangan itu sendiri. Suasana Spanyol pun semakin kental dengan lantunan musik flamenco sebagai latar.

Nos quedamos en la barra (kita akan duduk di bar),” ujar Yunji pada pria berusia 40-an tahun dengan tubuh besar dan bermata biru yang menyambutnya dari balik bar. “La carta de vinos, por favor (bisakah kau memberikanku daftar wine)?”

Pria itu menyodorkan menu seperti yang Yunji minta dengan ramah.

“Kau ingin memesan red wine dalam botol atau gelas?” tanya Yunji menawarkan pilihan pada Sunggyu.

“Tentu saja botol. Kau takut?”

Yunji tak menjawab. Ia berpaling dan kembali berkata, “Quería una botella de vino tinto, por favor (aku ingin memesan satu botol anggur merah)?” seraya mengembalikan lagi daftar menu yang ia minta tadi. Tak lupa, gadis itu juga memesan tapas sebagai camilan besar mereka malam itu.

Keduanya pun tenggelam dalam pembicaraan tentang acara amal yang akan diadakan esok hari. Sebuah acara dimana akan banyak dihadiri oleh orang-orang penting. Tentu saja, mereka adalah orang-orang yang memiliki peran penting dalam bisnis yang sedang diurus oleh Sunggyu. Pria itu juga mengingatkan Yunji untuk tetap berada di sampingnya besok. Karena mayoritas dari para petinggi itu tidak fasih berbahasa Inggris.

Sunggyu nampak menggoyang-goyangkan botol wine yang sudah kosong. Sekedar memastikan. Lalu, menyadari bahwa Yunji sedang menatapnya dengan aneh. Pipi gadis itu nampak merona merah. Apa gadis itu mabuk? Apa dia mabuk karena meminum red wine?

Wae?” tanya Sunggyu yang curiga akan tatapan aneh Yunji itu.

“Pinjam.” Yunji membuka kedua telapak tangannya. Ia meminta botol yang Sunggyu pegang. Meski tak mengerti, lelaki itu menurut saja. Ia tau ada yang tidak beres dengan Yunji. Gadis itu pasti sudah mabuk. Jadi, ia ingin melihat apa yang akan gadis itu lakukan.

 “Truth or Dare.” Yunji memutar botol red wine yang telah kosong itu secara tiba-tiba dan secara ajaib, mulut dari botol itu dengan tepat mengarah pada Sunggyu. Sebelah alis Sunggyu terangkat.

Kim Sunggyu-ssi, mengapa kau begitu suka mempermainkan wanita?”

Sunggyu sontak mendengus sekaligus tertawa singkat. Ia tak percaya dengan keputusan spontan yang gadis itu ambil tanpa bertanya terlebih dulu padanya. Ia pun hanya menggedikkan pundak. Ia akan mengikuti permainan Yunji yang sepertinya memang sudah sedikit mabuk itu.

“Aku tidak mempermainkan mereka. Aku hanya menghargai mereka dengan tidak menolak cinta mereka dan mengatakan hal-hal manis yang tidak akan menyakiti hati mereka yang lembut. Bukankah menurutmu aku sopan sekali sebagai seorang pria?”

Yunji mendengus sekaligus tersenyum sinis. Ia menggaris bawahi benar-benar kalimat ‘hal-hal manis yang tidak akan menyakiti hati mereka yang lembut.’. Baiklah mungkin itu benar. Tapi mengapa hal itu tak berlaku untuknya?

“Lalu, mengapa kau tak pernah mengatakan hal-hal yang manis padaku?”

“Kau ingin aku mengatakannya untukmu?”

Yunji menggedikkan pundak. Ia enggan menjawab.

“Baiklah,” Sunggyu meraih botol kosong itu dan kembali memutarnya. Kali ini, mulut botol itu mengarah pada Yunji.

“Lihat! Sekarang, kau harus menjawabnya.”

Yunji menghela nafas sejenak. “Tidak,” sanggah Yunji tegas. “Aku tidak butuh sopan santunmu. Begitupun gadis-gadis itu. Mereka pasti lebih senang, jika kau berkata jujur. Itu pasti lebih baik.”

“Kau ingin aku berkata jujur?”

Yunji mengangguk.

“Baiklah. Akan kulakukan. Kau ingin aku jujur soal apa?

Yunji mengangkat pundaknya sekilas dan bibir gadis itu mengerucut kesal. Mati-matian Sunggyu berusaha menahan tawanya. Ia menggigit bibir bagian bawah seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Ia merasa Yunji benar-benar menggemaskan kali ini. Gadis itu seperti sedang merajuk. Ia tak pernah melihat sisi Yunji yang seperti ini sebelumnya.

“Mmmm…. Baiklah. Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan sebelum kita kembali?”

Yunji tak langsung menanggapi pernyataan Sunggyu. Ia hanya terdiam seraya jemari dan tatapannya menyusuri tepian gelas yang berisi red wine di hadapannya.

“Kau benar. Ini red wine terbaik yang pernah kuminum.”

Sunggyu melipat kedua tangan di atas meja. Lalu kembali bertanya, “kau tak ingin kembali?” ia tau Yunji sedang mencoba mengalihkan topik.

“Apa aku punya pilihan itu?” Yunji memberanikan diri menatap Sunggyu kali ini.

“Jika kau mau.”

Gadis itu tersenyum. Lalu menopang dagu dengan sebelah tangannya. “Kau tidak akan bisa. Bukankah kau takkan pernah mengkhianati ibumu? Kau juga tak semurahan itu, bukan? Tinggal bersamaku di sini? Jangan konyol! Meninggalkan ibumu demi….” Yunji menyentuh pundaknya sendiri tanpa melanjutkan kata-katanya. “Ah, sudahlah lupakan!”

Sunggyu terdiam kali ini. Ia tak bisa mengatakan apapun. Ia ingat benar kalimat itu pernah meluncur dari mulutnya beberapa hari yang lalu saat ia sedang berbicara dengan ibunya melalui telepon. Ia pikir saat itu Yunji tak mendengarnya. Tapi rupanya tidak seperti itu.

“Kau benar. Aku tak semurahan itu. Aku takkan bisa mengkhianati ibuku. Tapi jika terus seperti ini, jika aku terus menginginkan lebih dan lebih lagi, jika aku tak pernah merasa puas dan justru semakin tamak seperti ini, bahkan aku—diriku sendiri—tidak akan tau jalan apa yang akan kutempuh nantinya.”

Yunji menatap kedua mata Sunggyu makin dalam. Meski, sorot matanya itu mulai meredup. “Benarkah?” tanyanya lirih. “Kupikir kau anak yang sangat berbakti kepada orangtuamu.”

“Kalau kau berhenti membuatku gila, mungkin aku benar-benar akan menjadi anak yang seperti itu.”

Mata Yunji terpejam. Ia mendengus. “Kau…, berkata manis padaku…. Kau…, mengatakannya…, seolah-olah…, kau bisa memasukkanku dalam hidupmu. Jahat…. Sudah kukatakan…, aku…, tidak…, membutuhkannya…, bodoh,” umpat Yunji sebelum akhirnya gadis itu benar-benar kehilangan kesadarannya.

Sunggyu bergeming. Ia hanya menatap wajah lelap Yunji. Kalimat yang gadis itu lontarkan telah menyentaknya.

Benar. Apakah ia bisa memasukkan Yunji dalam hidupnya? Apakah sekembalinya mereka dari Spanyol, semuanya akan tetap terasa seindah ini? Apakah semuanya akan berjalan lancar seperti di sini? Bisakah ia memilih untuk tak kembali saja?

Tangan Sunggyu bergerak perlahan menyisihkan anak-anak rambut yang menutupi kening gadis itu dengan hati-hati dan membelai pipi Yunji dengan lembut. Ia tak ingin mengusik Yunji. Ia ingin menatap wajah damai gadis itu untuk beberapa saat. Bolehkan?

“Kau yang bodoh. Aku sudah berkata jujur. Seperti permintaanmu.”

*

*

*

Sunggyu menyodorkan lengannya pada Yunji setelah keduanya menitipkan mantel masing-masing di tempat penitipan yang sudah disediakan. Gadis itu mengenakan gaun tea-length dress berwarna mint tanpa lengan dengan aksen renda berwarna putih, sebagian rambut bagian depan gadis itu diikat ke belakang dengan pita berwarna putih, dan sepatu strap heels yang juga berwarna putih dengan aksen pita berwarna senada mengikat pergelangan kakinya. Tak lupa, sebuah tas jinjing kecil perpaduan warna mint dan putih melengkapi tampilan elok Yunji malam itu. Sementara Sunggyu sendiri mengenakan tuxedo berwarna abu-abu gelap dengan kemeja berwarna putih dan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Keduanya terlihat benar-benar sempurna.

“Siap untuk malam ini?” tanya Sunggyu begitu Yunji mengaitkan lengannya pada lengan lelaki itu.

Yunji menarik nafas dalam-dalam dan menghela nafas perlahan. Ia sedikit gugup. Ralat. Ia sangat-sangat gugup. Ini adalah pengalaman pertamanya menghadiri sebuah acara sebesar dan sepenting ini. Ia tak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun itu. Ini malam yang menakjubkan dan tak boleh sampai rusak. Terlebih, ini adalah malam terakhir mereka di Spanyol sebelum akhirnya harus kembali ke Korea.

“Apa aku punya pilihan lain?”

Sunggyu mendengus sekaligus tertawa singkat. Yunji yang gugup benar-benar terlihat manis di matanya.

“Punya. Pilihanmu adalah untuk memberikan yang terbaik dan mengagumkan untuk malam ini. Kau pasti bisa melakukannya. Percayalah!” ujar lelaki itu seraya mengusap lembut punggung tangan Yunji. “Tegakkan punggungmu. Karena malam ini, akan menjadi malam yang paling luar biasa.”

Yunji menatap kedua mata Sunggyu dalam-dalam. Ia tak percaya bahwa dirinya benar-benar tersihir oleh setiap kata yang meluncur dari mulut lelaki itu. Ia mendapatkan kekuatan dari setiap kalimat manis Sunggyu. Oh, tidak! Ia pikir ia berbeda dengan para gadis yang Sunggyu pernah taklukan. Tapi rupanya tidak. Ia benar-benar telah hanyut dalam pesona yang lelaki itu tawarkan.

Saat memasuki aula tempat acara berlangsung, Yunji dibuat takjub dengan suasana dan dekorasi ruangan yang mewah nan elegan dibalut warna coklat keemasan dan putih yang memberikan kesan hangat di musim dingin ini. Banyak orang yang sudah berkumpul dalam ruangan luas itu. Mereka saling berbincang dan menikmati hidangan yang ada.

Sunggyu menghentikan seorang pelayan yang membawa nampan berisi beberapa gelas white wine. Ia mengambil segelas untuknya dan segelas lagi untuk Yunji.

“Hanya satu gelas. Aku tak mau melihatmu mabuk seperti kemarin. Kau mengerti?”

Yunji hanya mengangguk. Ia malu. Sungguh-sungguh malu. Ia tak menyangka ia bisa mabuk hanya dengan meminum 3 gelas red wine. Padahal, biasanya ia bisa minum hingga 5 botol soju tanpa harus kehilangan kesadarannya.

Malam itu, Yunji benar-benar harus bekerja keras. Karena banyak dari tamu yang hadir tidak lancar dalam berbahasa Inggris sehingga ia harus menerjemahkan semua perkataan mereka pada Sunggyu dan sebaliknya. Tapi terlepas dari itu semua, ia sangat menikmati acara malam itu. Bahkan Yunji dan Sunggyu sempat tampil bersama dengan memainkan piano sebagai persembahan mereka malam itu. Keduanya memainkan lagu yang ditulis sendiri oleh Sunggyu. Sebelumnya, mereka pernah memainkan lagu itu bersama di apartement Sunggyu. Saat itu, Sunggyu memergoki Yunji yang tengah memainkan lagunya dan akhirnya, memutuskan untuk memainkan lagu itu bersama. Tanpa diduga, mereka memainkannya lagi bersama malam ini di depan banyak orang dan mendapatkan sambutan yang hangat.

Semuanya berjalan lancar. Bahkan bagi Yunji, jika ini memang mimpi, ia rela untuk tak terbangun. Berada di Spanyol, mengenakan gaun yang indah, bermain piano, tertawa, menikmati hidangan lezat, dan semua kehangatan yang ia terima beberapa minggu terakhir ini benar-benar telah membuainya. Semua yang terjadi bak di negeri dongeng. Ia lupa siapa dirinya dan bagaimana dirinya sebelumnya yang begitu amat jarang mengumbar senyum apalagi tawa. Ia bahagia bisa menemukan sisi dirinya yang baru. Ia tak pernah tau ia bisa tersenyum dan tertawa selepas ini.

“Nona Yoo.”

Yunji berbalik ketika mendengar namanya dipanggil. Ternyata, memang bukan sosok asing yang baru saja memanggilnya itu. Joaquin Ruiz. Pria tampan itu sudah menyambutnya dengan senyum hangat ciri khasnya.

“Rupanya, Anda juga datang Tuan Ruiz?”

“Tentu saja. Dimana Tuan Kim?”

“Oh, dia sedang pergi ke toilet. Sebentar lagi, saya rasa ia akan segera kembali.”

“Oh, itu buruk.”

“Apa?”

Tuan Ruiz tergelak. “Tidak apa-apa. Aku hanya bercanda.”

“Apa Anda sendirian, Tuan?”

“Yah, begitulah. Karena aku tidak terlalu suka, jika ada seseorang yang terus mengikutiku, mengawasiku.”

Yunji mengangguk mengerti. Ia paham sekali bagaimana rasanya diikuti dan diawasi.

Tiba-tiba saja, lampu ruangan padam. Hal itu membuat Yunji tanpa sadar menyentuh lengah Tuan Ruiz yang berdiri di depannya. Tapi tak lama, lampu kembali menyala redup dan mengalunlah musik pengiring dansa yang tetap berbau musik khas Spanyol—flamenco—yang kental dengan petikan gitar. Beberapa pasangan mulai berdansa mengikuti alunan musik. Yunji menghela nafas lega dan buru-buru meminta maaf pada Tuan Ruiz karena sudah menyentuh lelaki itu.

“Mau berdansa?” Tuan Ruiz mengulurkan tangan kanannya.

“Tapi…saya tidak bisa berdansa.”

“Tak masalah. Kau hanya perlu mengikutiku,” jawab Tuan Ruiz seraya mempraktikan gerakan dansa dengan kedua tangannya. “Sebelum, ia kembali,” bisik Tuan Ruiz di telinga Yunji yang mengundang tawa keduanya pecah.

Akhirnya, Yunji menyambut uluran tangan Tuan Ruiz untuk berdansa. Tak seperti yang Yunji bayangkan, ternyata berdansa itu sungguh mudah. Ah, tidak. Ralat. Sepertinya, berdansa menjadi mudah karena partnernya adalah seseorang seperti Tuan Ruiz yang cukup mahir. Yunji cukup mengikuti gerakan tubuh Tuan Ruiz. Sesekali, ia tetap melakukan kesalahan seperti menginjak kaki pria tampan itu atau menabrakkan tubuhnya tanpa sengaja ke Tuan Ruiz ketika pria itu memutarnya dan berusaha menangkap tubuhnya hingga mengundang tawa keduanya. Alunan musik yang semula penuh semangat pun berubah menjadi alunan musik yang lebih pelan yang bertujuan agar para undangan bisa lebih menikmati momen yang lebih intim dan menikmati tarian mereka.

“Lihat! Kau semakin mahir Nona Yoo. Kau seseorang yang cepat belajar. Aku tau itu,” ujar Tuan Ruiz saat ia sudah menjaga Yunji untuk tetap berada dalam lingkar tangannya.

Yunji tergelak. “Pandai menghancurkan sepatu Anda?” Gadis itu melirik ke bawah. Giliran pria Spanyol itu yang tertawa.

“Sungguh. Bukan itu maksudku.”

“Iya, saya tau. Itu semua karena Anda adalah tutor yang mengagumkan. Jadi, saya bisa berdansa dengan baik.”

Tuan Ruiz menggedikkan pundaknya. “Kapan kau akan kembali?”

“Besok.”

“Tak ingin tinggal lebih lama?”

“Jika saya bisa.”

Tuan Ruiz tersenyum. “Senang bisa bertemu denganmu. Kuharap kita bisa bertemu di lain kesempatan, Nona Yoo.”

“Saya juga berharap begitu, Tuan Ruiz.”

Keduanya terdiam setelah itu. Menikmati alunan musik dan gerakan dansa dengan perlahan. Tak selang berapa lama, Tuan Ruiz mendapati sosok Sunggyu di ujung ruangan tengah menatap ia dan Yunji dengan tajam. Sadar Tuan Ruiz sudah melihatnya, Sunggyu melangkahkan kaki mendekati lelaki itu.

“Sepertinya, tarian kita harus berakhir,” ucap Tuan Ruiz seraya melepas Yunji. Ia tersenyum separuh hati.

Yunjin pun mengekori pandangan Tuan Ruiz karena menyadari lelaki itu menatap seseorang dari balik punggungnya. Benar, Sunggyu sedang berjalan menghampiri keduanya dengan raut yang tak bersahabat sama sekali.

Sorry. We should go,” ujar Sunggyu seraya mencengkram pergelangan tangan Yunji dan menatap tajam Tuan Ruiz. “Ah! Dan aku tak perduli kau mengerti bahasaku atau tidak. Tapi aku harus tetap membawa gadis ini pergi. Permisi,” imbuh lelaki itu tanpa basa-basi dan menunduk sekilas sebelum akhirnya menggeret Yunji pergi bersamanya.

Yunji hanya bisa menatap Tuan Ruiz dengan sangat menyesal dan menundukkan kepala sejenak sebagai permintaan maafnya sebelum akhirnya ia tak lagi bisa melihat pria itu. Karena Sunggyu membawanya ke balkon dimana mereka sudah jauh dari hiruk pikuk di dalam ruangan. Hanya terdengar sayup-sayup alunan musik yang masih mengiringi para tamu yang tengah asik berdansa dari sana.

Kali ini, apa yang akan Sunggyu katakan padaku? Apa dia akan memaki dan mengatakan bahwa aku ini pelacur? Penggoda? Wanita murahan? Apa lagi? Yunji terus bertanya dalam hati.

Sunggyu nampak tak ingin berbicara untuk beberapa saat. Lelaki itu hanya menunduk. Sepertinya ia sedang mencoba berdamai dengan hatinya. Setelah menghela nafas cukup keras, ia membuka mata dan menatap Yunji. Lantas melepas jasnya dan menyampirkan jas itu ke pundak Yunji. Gadis itu mematung tak mengerti.

“Kau….”

Kali ini, Yunji tersentak kaget begitu Sunggyu bersuara.

“Apa kau tidak mau berdansa denganku?”

“Apa?

Sunggyu nampak tergagap. Tak seperti biasanya pria itu. “Aku tidak akan membahas mengapa kau berdansa dengan pria itu. Aku hanya ingin kau berdansa denganku. Maukah?” Sunggyu mengulurkan tangan kanannya dan sedikit merunduk. Ia benar-benar gugup. Ia tau ini tak seperti dirinya. Tapi ia sendiri tak bisa mengendalikan hatinya. Setengah mati ia menahan cemburu dan setengah mati ia menahan amarah agar tak mengeluarkan kata-kata yang akan melukai hati Yunji. Kini, ia mati-matian menahan debaran jantungnya yang berdegup kencang hanya karena mengajak gadis itu berdansa.

Yunji termangu untuk beberapa saat. Ternyata dugaanya salah. Ia pikir Sunggyu akan memakinya habis-habisan seperti biasa. Tapi mengapa sekarang….

“Kau tidak mau?” Sunggyu mendongakkan kepala memberanikan diri menatap Yunji. Bahkan lelaki itu tak bisa menutupi kenyataan bahwa matanya berpendar sedih karena takut ditolak.

Yunji membuka mulutnya. Tapi urung mengatakan sesuatu. Ia menatap lamat-lamat kedua mata Sunggyu. Lelaki itu terlihat tulus. Lagi-lagi. Ya, lagi-lagi ia hanyut dalam pesona yang tak bisa ia tolak.

Sunggyu tersenyum cerah begitu Yunji menyambut tangannya. Ia mengatakan pada Yunji bahwa ia tak akan mengecewakan gadis itu. Karena ia adalah penari yang baik. Lebih baik dari seseorang yang mengajaknya berdansa beberapa saat yang lalu.

Yunji sama sekali tak berani menatap mata Sunggyu. Kare ia merasa semakin ia menatap mata lelaki itu, ia pasti akan tenggelam semakin jauh dan tak terselamatkan. Meskipun, sebenarnya ia sadar ia sudah tak terselamatkan sejak ia mengakui pria itu sudah membuatnya nyaman. Karena semua yang terasa indah di sini cepat atau lambat, lelaki ini jugalah yang akan membawanya kembali ke kenyataan. Ia tau tak ada yang bisa ia hindari lagi setelah ini. Mungkin, ia hanya bisa menahan efeknya sedikit dengan mengontrol keinginan hatinya?

“Hei, mengapa tidak mau menatapku?”

Gadis itu menggeleng.

“Ini perintah.”

Sontak, Yunji mendelik kesal dan membuat Sunggyu tertawa puas.

“Itu baru Yoo Yunji yang kukenal.”

“Dasar menyebalkan!”

Sunggyu tersenyum. Ia mengunci tatapan Yunji. Tangannya yang melingkar pada pinggang gadis itu menekan Yunji untuk lebih mendekat. Lebih tepatnya, agar gadis itu kembali menatapnya.

“Jangan melihat ke tempat lain!”

Yunji berdeham. “Mengapa? Pemandangannya indah.” Yunji merujuk pada hamparan taman luas dihiasi lampu taman yang berpendar keemasan dan berujung pada bibir pantai.

“Hei! Sudah kubilang jangan melihat ke tempat lain.”

“Aku tak pernah tau kalau seseorang sepertimu ternyata begitu posesif.”

“Seseorang sepertiku?”

“Iya, sepertimu. Yang memiliki banyak gadis di sampingnya.”

“Mungkin karena gadis itu adalah kau.”

“Hei, jangan coba merayuku!”

“Tidak. Aku sedang berkata yang sebenarnya.”

“Jangan bercanda!”

“Tidak.”

“Tidak?”

“Aku serius.”

Yunji menatap lamat kedua mata Sunggyu. Ia hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sunggyu sedang bercanda dengannya. Tapi tatapan mata lelaki itu justru semakin dalam. Mendebarkan jantungnya. Menghangatkan sekujur tubuhnya. Menyesakkan hembusan nafasnya.

“U…. Udaranya semakin dingin. Sebaiknya kita masuk.” Yunji tergagap seraya mendorong tubuh Sunggyu menjauh. Tapi lelaki itu justru kembali menarik punggung gadis itu dan tangan yang lain menggenggam erat sebelah tangan Yunji.

“Mencoba menghindariku?”

“Un…untuk apa?” Yunji menyentuh lengan Sunggyu berusaha lepas dari pria itu.

“Kalau begitu, tatap mataku. Katakan kau tidak mencintaiku.”

“Kau sudah gila?”

“Ya.”

Yunji menggeleng. Ia masih berusaha berkelit agar Sunggyu melepaskannya. Tapi lelaki itu menahannya cukup kuat. Meski hanya dengan satu tangan.

“Kau yang membuatku gila.”

“Aku? Bagaimana aku bisa?”

“Jangan tanya! Aku juga tidak tau.”

“Tidak. Kau hanya terbawa suasana. Semuanya akan kembali seperti semula saat kita kembali besok.”

“Apa kau yakin? Setelah yang kita lalui beberapa hari ini kau masih menyebutnya terbawa suasana?”

Ada jeda sejenak bagi Yunji untuk menjawab. “Ya.”

“Bohong!”

“Kau mabuk.”

“Tidak.”

“Biarkan aku pergi.”

“Tidak sebelum kau tatap mataku dan katakan bahwa kau tidak mencintaiku.”

Yunji terdiam. Ia juga berhenti berkelit. Ia berusaha menenangkan hatinya dan menatap Sunggyu sebiasa mungkin. Hanya mengucapkan bahwa ia tidak mencintai pria itu, bukan? Itu mudah. Pasti sangat mudah.

“Aku….  Aku tidak….” Berat. Sulit.

Sial!

Yunji sendiri terkejut dengan dirinya yang tak bisa mengucapkan kalimat semudah itu. Ia tak pernah tau mengucapkan kalimat ‘aku tidak mencintaimu’ bisa sesulit ini. “Aku tidak…. Aku tidak—me….”

“Aku mencintaimu. Yoo Yunji.” Dan Sunggyu menangkup kedua pipi gadis itu. Lantas mencium bibir Yunji dengan lembut.

Yunji yang terkejut tak mampu berkutik. Ia membeku. Bisa ia rasakan ciuman yang Sunggyu berikan kali ini berbeda dari ciuman yang pernah pria itu berikan sebelumnya. Ia tak kasar dan semenakutkan saat itu. Karena kali ini, Sunggyu lebih lembut. Pria itu memperlakukannya lebih lembut dan hangat. Dan sebelum Yunji kembali ke alam sadarnya, gadis itu sudah menutup mata. Tangannya yang semula hendak menjauhkan Sunggyu dari tubuhnya justru melakukan hal sebaliknya. Ia mencengkram erat pundak Sunggyu. Ia menikmati setiap jengkal kehangatan yang Sunggyu tawarkan. Bahkan ia tak bisa menghindari kenyataan bahwa ia bahagia dan tersenyum akan kenyataan yang Sunggyu suguhkan detik ini.

Sama halnya dengan Yunji. Sunggyu juga tersenyum bahagia saat ia membuka mata dan mendapati Yunji sudah menutup mata karena telah menerimanya. Gadis itu beberapa kali telah membuatnya ragu dan kesulitan untuk menyatakan perasaannya. Tapi dengan begini, Sunggyu tau ia tak sendiri. Bahkan seperti sedang merayakan kebahagiaan keduanya, salju turun untuk kali pertama di Marbella sepanjang musim dingin tahun ini.

“I love you,” bisik Sunggyu dan sekali lagi kembali mendaratkan ciumannya pada bibir Yunji. Pria itu melakukan hal yang sama beberapa kali: berhenti mencium dan mengatakan betapa ia mencintai Yunji. Lalu kembali mencium gadis itu.

Yunji tak tau kebahagiaan macam apa ini. Tapi ia tak ingin Sunggyu berhenti mengatakan bahwa pria itu mencintainya. Sampai pada akhirnya, entah dari mana asalnya ia kembali teringat akan siapa dirinya. Akan kenyataan yang akan ia hadapi beberapa jam kedepan. Akan pilihan yang harus ia jatuhkan. Ia akan melindungi Sunggyu dengan menjauhi pria itu atau membiarkan Sunggyu semakin larut dan membuat pria itu melunasi semua hutangnya serta mengangkutnya dari kolam kematian yang selama ini mengurungnya dan membawa lelaki itu melihat ke dalam kehidupannya yang bobrok. Tidak. Ia tak bisa. Ia tak bisa seperti ini. Tidak boleh. Yunji mendorong kuat-kuat tubuh Sunggyu menjauh hingga lelaki itu nyaris terjungkal.

Wae?” tanya Sunggyu tak mengerti dengan perubahan yang begitu tiba-tiba itu.

Yunji tergagap. Ia tak tau apa yang harus ia katakan. Matanya nanar. Mati-matian ia menahan tangis. Kedua tangannya terangkat memberi sinyal pada Sunggyu agar pria itu tak mendekat padanya. Yunji menggeleng. Terus menggeleng.

“Tidak. Bukan apa-apa. Aku…aku…akan kembali ke hotel lebih dulu.”

“Yun—.”

“Berhenti!” Yunji berteriak tanpa sadar dan menghentikan langkah Sunggyu yang hendak mengejarnya. Ia tak mengerti mengapa ia harus berteriak. Ia hanya panik. Bahkan hal itu telah membuatnya tak bisa menguasai air mata yang sudah mati-matian ia tahan. “Maaf. Aku…biarkan aku sendiri.”

Dan Yunji segera berlari meninggalkan Sunggyu yang terpaku di tempat. Ia tak tau apa yang baru saja terjadi. Semuanya benar-benar terjadi dengan begitu cepat. Apa yang salah? Bukankah Yunji sudah menerimanya? Bukankah gadis itu juga mencintainya? Tapi mengapa?

Yunji hanya terus berlari. Bahkan ia tak menyadari dimana ia sudah menjatuhkan jas Sunggyu yang pria itu berikan sebelum mereka berdansa tadi. Ia juga rela melepas sepatunya hanya untuk bisa berlari. Ia tak mau sampai Sunggyu mengejarnya. Tapi sialnya, jalan keluar dari area acara itu diadakan cukup jauh. Yunji harus melewati taman yang begitu luas sampai akhirnya, ia tak mampu berlari dan memutuskan untuk duduk di salah satu kursi taman karena kakinya terasa kebas akibat cuaca dingin malam itu.

Gadis itu mencoba menghangatkan kedua telapak kakinya. Tapi ia tetap merasa kedinginan. Ia tak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Jadi, ia menangis sekeras-kerasnya. Ia menyesali semuanya. Bahkan, ia tak bisa memilah apa saja yang telah ia sesali. Apakah ia telah menyesali sudah membiarkan dirinya larut akan kehangatan yang Sunggyu tawarkan sejauh ini ataukah menyesali telah meninggalkan lelaki itu? Atau bahkan mungkin menyesali tak membiarkan pria itu melakukan semua hal demi dirinya? Ia terus menggumamkan kata maaf dalam sela isak tangisnya. Ia tak tau apalagi yang harus dilakukan dan bagaimana menghadapi pria itu esok hari. Ia hanya bisa menangis untuk saat ini.

“Kau meninggalkan mantelmu, Nona Yoo.”

Yunji sontak tersentak kaget. Ia segera menoleh dan mendapati Daehyun sudah berdiri di belakangnya seraya memakaikan mantel padanya.

“Daehyun-ssi?”

To Be Continued

Aku nggak tau masih ada yang nunggu FF ini atau enggak. Karena emang udah berhenti cukup lama. Tapi aku tetep pengen aja melanjutkan nulis. Mumpung sekarang udah bisa nulis lagi. Kalau masih ada yang mau baca aku seneng banget. Apalagi sampe mau ninggalin komen 😀

 

Ps: Thanks to yang udah mau benerin laptopku. Kalau enggak, paling ff ini gakkan pernah aku lanjut lagi 😛

One thought on “[Chaptered] Rose (Chapter 10)

Song Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s